Berada di lingkungan yang mayoritas pedagang sebenarnya menarik. Banyak hal yang bisa saya dapatkan, mulai dari konsep dalam membangun usaha hingga mitos-mitos yang entah asal muasal dan kebenarannya masih perlu dipertanyakan.
Dalam hal dagang, kebanyakan masih menggunakan cara-cara konvensional. Misalnya saja, jika pendapatan rata-rata mereka adalah Rp 100.000/hari dengan keuntungan 20%, maka keuntungan itulah yang akan mereka pergunakan untuk sehari-hari. Yang penting modal sudah kembali berarti AMAN. Sehingga bisa dikatakan usaha mereka hampir tidak mengalami kemajuan. Dan yang menarik lagi, mereka sangat antipati terhadap bank berbeda dengan pengusaha-pengusaha besar yang justru selalu berusaha untuk mendapatkan pinjaman dari bank. Alasan mereka cukup sederhana, tidak ingin meninggal dalam keadaan memiliki hutang atau tidak ingin menyusahkan orang lain. Ok. Sebelum terlalu jauh, saya kembali lagi lah ke judul.
Dalam hal menghargai hasil jerih payah mereka, - katakan lah uang- ada keunikan disini. Beberapa waktu lalu, saya berkunjung kerumah salah satu keluarga dan kebetulan saat itu dia sedang menghitung hasil penjualan hari itu. Saya perhatikan, mereka menyusun uang dengan sangat rapi. Uang-uang itu disusun dengan posisi yang sama seperti baru keluar dari bank. Misalnya Rp 10.000, maka gambar Sultan Mahmud Badaruddin akan disusun menghadap keatas hingga jumlah tertentu. Begitu juga dengan uang-uang lainnya. Saat saya tanyakan alasannya, jawabannya pun cukup sederhana. Mereka menganggap diri mereka seperti gambar yang selalu menghadap keatas untuk mengingat Sang Pemberi Rezeki.
Tidak hanya itu, setelah terikat rapi uang-uang tersebut lalu disusun didepan mereka sambil duduk bersila kemudian membaca doa. Begitu selesai, satu persatu ikatan uang tersebut dipegang dan disentuhkan ke kepala dan hidung. Maksudnya adalah bahwa uang adalah sesuatu yang sangat berharga dan harus diperlakukan dengan hormat.. J
Pernah juga saat salah satu tetangga mengadakan selamatan dengan memanggil orang tua – yang biasa dipanggil imam – untuk memimpin doa. Namanya selamatan, pastilah ada makanan. Setelah acara selesai, tuan rumah lalu menyodorkan amplop kepada imam dengan cara bersalaman dan saling menutupkan tangan. Tujuannya agar tidak terlalu vulgar. Salaman itu cukup lama, karena tuan rumah akan mengucapkan sesuatu yang akan disambut juga oleh imam. Menurut salah satu yang hadir, tuan rumah mengucapkan niat sebagai penghalalan amplop itu dan imam menerimanya serta diakhiri doa menerima rejeki. Selanjutnya, imam menyentuhkan amplop itu ke kening dan hidungnya kemudian amplop itu menyusup kedalam kantong imam dengan sukses. J
Banyak cara menghargai harta yang dilakukan dalam masyarakat. Ada yang melakukannya dengan mengikutkan simbol-simbol seperti cara-cara diatas, ada yang menyimpan dan menjaganya dengan sangat hati-hati malah terkadang menjurus pada kekikiran. Tetapi ada juga yang menghargai harta mereka dengan saling berbagi. Apapun dan bagaimanapun cara untuk menghargai harta tersebut, saya hanya ingin mengakhiri tulisan ini dengan sebuah pertanyaan sederhana, untuk saya sendiri dan para pembaca. Sudahkah kita mensyukuri harta tersebut yang didalamnya terdapat hak orang lain..??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar